?

Log in

 
 
17 August 2013 @ 12:49 pm
[Orific] Kisah Tentang Kita  
So. I was bored and all.
Then I looked over my files and found this.
This was my final task for my Indonesian lesson last semester :3
I was told to write a short story, and somehow it turned to something more like a Sho-Ai one-shot :/
Yup, this story is about 2 boys who are really close, but then one of them is acting so strange out of the blue. And... well it's basically about misunderstanding and jealousy LOL
Anyway, I love the way this story ends <3 Hoho all thanks to my friend, Non-san, she gives me the whole inspiration <3
Ah, I've got 90 for this story btw <3


Kisah Tentang Kita

“Yosh! Akhirnya selesai~!” Ghrian berseru senang bersamaan dengan terdengarnya bel pulang. Dengan cekatan dia memasukkan buku-buku dan alat tulis ke dalam tasnya dan segera beranjak pergi. “Dah, guys! Assalamu’alaikum!” Seusai mengucap salam, siswa kelas Bilingual itu langsung meluncur ke gedung seberang, seperti biasa.

Sudah menjadi rutinitas bagi pemuda tinggi berambut hitam ikal itu untuk segera stand-by di depan kelas A. “Assalamu’alaikum~! Aoi, let’s go home~!” Suara cempreng Ghrian sudah pastilah bukan lagi hal asing bagi siswa-siswi kelas itu. “Oke, bentar. Tunggu.” Aoi membalas seruan Ghrian dengan sangat datar, yah, tipikal Aoi. “Come on, Turtle!” Ghrian seenaknya masuk ke dalam kelas Aoi dan membantu –atau malah mengganggu, bagi Aoi— membereskan barang-barangnya. “Iya, iya. Duh. Sudah kok, dan berhenti memanggilku kura-kura, Saru.” Aoi menyelempangkan tasnya dan segera mengikuti jejak Ghrian yang entah sejak kapan sudah kembali di luar kelas.

Ghrian Franky Putra, adalah nama lengkap dari pemuda yang tadi menjemput Aoi. Dengan kulit putih hasil blasteran Indonesia-Irlandia dan tampang cakep namun agak sangar ala preman gaul, Ghrian sangatlah populer di sekolahnya. Poin unggul Ghrian adalah kemampuannya berbahasa Inggris yang sudah berada di tingkat dewa, bakatnya dalam bertinju, serta semangat tingkat tingginya yang tak pernah sekalipun padam.

Sementara itu, orang di sebelahnya saat ini, Aoi G. Hakkai, adalah anak keturunan Jepang yang cakep, sangat. Ia berpenampilan memikat dengan rambut hitam kecoklatan, kulit putih kekuningan, dan secara keseluruhan sangat oriental khas Jepang. Namun darah sang ibu yang asli Eropa mendominasi warna matanya yang memikat, biru. Karena itulah namanya Aoi, yang berarti biru dalam Bahasa Jepang. Berpenampilan khas bangsawan kekaisaran Jepang dengan IQ jauh di atas rata-rata dan ketenangan yang menghanyutkan adalah sedikit dari sekian faktor kepopulerannya.

Ia dan Ghrian sama-sama memiliki jutaan fans di sekolah mereka, mereka sama-sama tenar, cakep, dan kaya. Namun soal kepribadian, huh, mereka adalah api dan air, berbalik 180 derajat. Aoi selalu bersikap sangat tenang, menjunjung tinggi kepribadian, etika dan estetika, serta memiliki kecerdasan yang tak diragukan lagi. Sementara Ghrian, adalah pemuda yang sangat ceria, bertingkah, suka melompat ke sana-sini dan sangat cerewet. Tak heran Aoi menjulukinya Saru, atau Monyet dalam Bahasa Jepang.

Berbicara tentang dua makhluk ini, mereka adalah teman karib sejak kecil. Entah bagaimana sejuta perbedaan di antara mereka justru membuat mereka tak mampu berpisah dari satu sama lainnya. Bahkan ketika mereka masuk Real Face High School —SMA Internasional nomor 1 di Indonesia—, dan berada di kelas yang sangat berbeda, terpisah sangat jauh. Kelas bilingual yang berada di ujung barat sekolah berisi anak-anak super supel dengan hubungan internasional yang mendunia, dan kelas unggulan A yang berada di ujung paling timur sekolah berisi anak-anak bertampang serius dengan berbagai prestasi akademis yang menjulang. Tapi tetap saja, mereka selalu menghabiskan setiap waktu luang yang ada bersama-sama. Berangkat sekolah, waktu istirahat, dan pulang sekolah. Seperti saat ini.

Mereka berdua sedang berada di dalam mobil Ferrari yang disetir sendiri oleh Ghrian, perjalanan menuju rumah mereka, yang sebenarnya cukup ditempuh dengan jalan kaki. Perjalanan mereka cukup singkat, hanya saja rentetan celotehan Ghrian yang tiada habisnya entah bagaimana membuatnya terasa lama. Sesampainya di depan gerbang kediaman keluarga Hakkai –atau yah, dibilang di depan gerbang rumah Ghrian juga bisa, rumah mereka berdempetan sih–, Ghrian akhirnya berhenti berceloteh. Bukan karena apa-apa, hanya saja dia merasakan tatapan Aoi yang ditujukan padanya. Tatapan yang intens, sangat intens.

Ghrian bukanlah tipe orang yang tahan diberi tatapan seperti itu. “Hoi. Ngapain ngeliat aku sampai sebegitunya? That’s ‘kinda creepy, ‘y know.

“Hey, Ghrian.” Kata Aoi, setelah ada jeda beberapa detik.

What?” Ghrian mengangkat salah satu alisnya.

Raut muka Aoi detik ini sedikit berbeda dari biasanya, memang sih mukanya hampir selalu datar, kaku dan serius. Namun yang ini... lebih. “Sekarang sudah tanggal 25 April.”

Ghrian menekuk dahinya. Ada apa dengan tanggal 25 April? “Terus?”

Ada jeda yang lebih lama dari sebelumnya, mata biru Aoi menatap langsung ke manik mata Ghrian. Mata biru tenang, menghanyutkan, namun entah bagaimana terasa seperti ada sesuatu yang bergolak di dalamnya. Semacam suatu perasaan... galau? Entahlah.

“Unh, lupakan.” Aoi tiba-tiba menggelengkan kepala. Dia melepaskan sabuk pengamannya dan beranjak keluar dari mobil. “Ngomong-ngomong, kurasa hari ini aku tidak bisa mampir ke rumahmu.”

“Eh? Kalau begitu aku saja yang ke rumahmu. Beres ‘kan?” Ghrian baru saja mau mengarahkan mobilnya ke arah rumah Aoi ketika Aoi memotong, “Tidak usah.”

Entah ada apa, Ghrian tidak tahu apa-apa. Entah kenapa, Aoi jadi semacam sedikit menjauh darinya. Entah bagaimana. Entahlah, semenjak saat itu, semua menjadi blur bagi Ghrian.


~***~


“Assalamu’alaikum! Aoi ada?” Ghrian mendongakkan kepalanya ke dalam kelas A. Hari ini dia ada kumpul ekskul tinju, karena itulah dia agak telat datang menjemput Aoi. “Wa’alaikumsalam. Aoi tadi udah pergi, kupikir tadi sama kamu.” Cewek berambut pendek menyeru. “Eh, nggak,” seorang cewek berkacamata menimpali, “tadi si Aoi itu sama... Marchell, anak kelas B.”

Marchell. Oh, Aoi pulang duluan bersama Marchell. Oh, Aoi hari ini memilih untuk tidak pulang bersamanya. Oh.

Pikiran itu berputar-putar di kepala Ghrian untuk sekian detik yang terasa bermenit-menit. Menusuk ke dalam alam bawah sadarnya, menimbulkan denyutan aneh di jantungnya. Sakit.

Untunglah Ghrian bukan tipe yang mudah terlarut dalam pikiran negatif, jadi dia segera mengesampingkan semua itu dan mencoba bersikap normal, meski denyutan jantungnya masih terasa aneh.

“Eh? Dia udah pulang duluan? Ya udah deh, thanks ya. Assalamu’alaikum.”

Sebenarnya Ghrian memang sudah merasa ada yang sedikit aneh. Tidak biasanya Aoi pulang duluan tanpa menunggunya. Yah, atau mungkin memang salah dia juga sih, tadi itu kumpul ekskul mendadak, dan dia lupa menghubungi Aoi. Segera Ghrian mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan singkat:

Hi, sry I was hvin’ a sudden meetin’ of my excul.
I frgot to tell ‘y.

Seusai mengirim permintaan maafnya pada Aoi, Ghrian sudah merasa agak lega. Yah, awalnya Ghrian pikir Aoi cuma meninggalkannya pulang duluan karena memang dia lama. Namun ternyata bukan cuma itu.

Keesokan harinya, Aoi berangkat sekolah duluan. Waktu istirahat, Aoi tidak ada di kelasnya. Pulang sekolah pun, lagi-lagi dia pulang duluan. Ghrian sebenarnya sudah mencoba berkali-kali menghubungi sahabat karibnya itu via ponsel, namun selalu gagal. Pada akhirnya selama seharian itu, tidak sekali pun Ghrian melihat batang hidung Aoi.

Ghrian mengacak rambutnya frustasi. What on earth is wrong with him?! Apa yang salah dengan Aoi? Atau mungkin dia sudah melakukan sesuatu yang membuat anak bermata biru itu marah padanya? Serius, for God’s sake, Ghrian tidak tahan seperti ini terus. Denyut jantungnya yang aneh, sakit dan menyiksa ini semakin menjadi. Ghrian pun memutuskan, besok, yang kebetulan hari Minggu, dia harus ketemu Aoi, bagaimanapun caranya. Dia mau meluruskan semuanya.

Yah, itu sih ikrarnya di malam sebelumnya. Tapi bagaimanapun, Ghrian tetaplah Ghrian, yang sukanya molor di hari Minggu.
“What?! Kok sudah jam segini? Aaargh.” Ghrian menggeram kesal pada dirinya sendiri ketika bangun dan menemukan jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Dengan tergesa-gesa dia mandi, ganti baju, sarapan dan segera cabut menuju Mall Sekuzon, tempat Aoi berada sekarang, menurut para pelayan kediaman Hakkai.

Aoi pasti sedang berada di lantai 2 Mall Sekuzon, di Toko Buku ‘Precious One’. Atau yah, itu menurut Ghrian. Namun ternyata tidak. Di saat Ghrian sedang menaiki eskalator ke lantai 2, sesosok bayangan berambut hitam kecoklatan berkelebat di eskalator turun.

AOI!

Ghrian menjerit dalam hati, ya, Ghrian tahu persis itu Aoi. Ghrian mencoba berbalik turun melawan arus, tapi dasar bodoh, tentu saja itu tidak mungkin apalagi di kerumunan seperti ini. Berdecak kesal, akhirnya Ghrian dengan tubuh rampingnya menyelinap di kerumunan, berlari ke lantai 2 dan segera turun menggunakan eskalator arah sebaliknya.

Semua terasa berjalan begitu cepat. Dia terus mencoba berlari, meski mulai terdengar umpatan orang di sekitarnya yang terdesak oleh Ghrian. Ghrian yang biasanya cukup sopan sama sekali tidak peduli untuk saat ini. Saat ini hanya ada satu di benaknya. Aoi.

Aoi. Aoi. Aoi. Aoi.

Nama itu terus berputar seperti mantra yang tak pernah putus sementara Ghrian terus berlari mengejar sosok itu. Meski nafasnya semakin memburu, meski langkahnya mulai terseok-seok, Ghrian terus berlari.

Terengah-engah, akhirnya pemuda berambut ikal itu hanya beberapa langkah di belakang sosok yang sedari tadi dikejarnya. Sedikit lagi.
Ghrian menjulurkan tangannya, membuka mulutnya, bersiap menyerukan namanya, memanggilnya, membuatnya menoleh ke arahnya.

“AO-“

Perkataan dan langkah Ghrian terpotong ketika ia melihat bahwa ternyata Aoi tidak sendiri.

Dia bersama seorang pemuda tinggi berambut pirang kecoklatan.

Marchell.


~***~

Gyut.

Ghrian meremas dadanya, jantungnya terasa sakit, sakit sekali. Sudah satu jam berlalu sejak dia melihat Aoi besama Marchell di mall, namun hingga saat ini ketika dia sedang berusaha meluapkan seluruh emosinya ke karung tinju dihadapannya, rasa sakit di jantungnya tak kian hilang. Semakin sakit, justru. Seiring dengan segala kekacauan di benak Ghrian.

Pada akhirnya, hari itu Ghrian hanya menghabiskan harinya di lantai 3 rumahnya, mencurahkan seluruh keluhan, ketidaktenangan, kekalutan, apapun yang menggelayuti hatinya. Dia menceritakan semua hal yang tak mampu dimengerti olehnya, bertanya pada karung bisu di depannya dalam setiap hantaman keras yang meluncur dari kepalan tangannya.

Bertinju memang selalu merupakan solusi pelarian diri yang sempurna bagi seorang Ghrian. Dia sudah merasa sedikit lebih baik saat ini.
Tapi bagaimanapun, Ghrian masih belum merasa cukup, meski dia sudah bermandikan keringat dan buku-buku jarinya mulai memar. Sisa-sisa denyut jantungnya yang sakit masih terasa.

Pukulan demi pukulan, hantaman demi hantaman. Semua itu meluncur terus menerus ke karung tinju yang tak berdaya.
Bukanlah tidak mungkin ia akan terus berlatih tinju hingga tubuhnya tidak akan kuat lagi, untuk melampiaskan segala perasaannya, kalau saja ponselnya tidak berbunyi dan menampilkan sebuah pesan:

Hei Saru. Keluarlah. Sekarang.

Ghrian berkedip tak percaya. Bukan karena heran melihat pesan singkat itu terlalu singkat, tapi karena melihat siapa pengirimnya. Dia berkedip lagi, seolah nama yang tertera di layar ponselnya itu hanyalah halusinansinya yang akan berubah ketika ia membuka mata.

Namun nama itu tetaplah sama.

Ghrian langsung melempar tubuhnya ke jendela, menengok ke bawah, ke depan rumahnya. Sesosok remaja berpakaian semi-kasual, berdiri di sebelah sebuah mobil Suzuki keluaran terbaru, melambai dan tersenyum tipis ke arahnya. Sosok yang beberapa hari ini menghilang dari kehidupannya. Sosok yang tadi dikejar-kejarnya. Sosok yang telah menghancurkan ritme detak jantung Ghrian.

Aoi.

Tak perlu menunggu lebih lama lagi, tidak peduli meskipun ia bermandikan peluh, Ghrian menyambar jaketnya dan segera berlari menuruni rumahnya, berjalan cepat melangkah keluar rumah.

“Masuklah.” Belum sempat mengatakan halo atau apapun, Aoi membukakan pintu mobilnya dan mempersilakan Ghrian duduk. Tidak masalah untuk Ghrian sih.

Yang menjadi masalah baginya adalah, apa sih maunya anak satu ini? Dia mau dibawa kemana?

Mobil Suzuki itu segera melesat. Selama perjalanan, tidak ada satupun yang berinisiatif membuka suara ataupun memulai percakapan.
Satu-satunya suara adalah suara mesin yang menderu, berharmoni dengan keramaian jalanan.

Bahkan ketika mereka sudah keluar dari daerah perkotaan, memasuki daerah pinggiran yang sepi dan tenang, yang ada di antara mereka hanyalah kesunyian. Namun entah bagaimana, kesunyian ini bukanlah kesunyian yang membuatmu merasa canggung, justru ini adalah kesunyian yang menenangkan, yang melegakan.

Yah, kesunyian inilah yang dirindukan oleh Ghrian. Jantung Ghrian kini telah menemukan kembali ritme normalnya. Dalam kesunyian ini, Ghrian merasa ringan, lega. Semua ini seakan mereka sudah kembali seperti semula. Seakan.

Ghrian memejamkan mata, menikmati semua perasaan tenang yang sangat dia rindukan. Mengingat masa-masa indahnya dengan Aoi. Oh, sungguh dia merindukan semua luapan emosi ini.

Tiba-tiba Aoi menghentikan mobilnya. Tapi Ghrian masih belum membuka matanya, mencoba mendengarkan, merasakan, apa yang ada di sekitarnya. Suara nafas Aoi yang teratur, suara mesin mobil yang masih menderu samar, suara angin yang membelai lembut dan suara gemericik air yang sangat tidak asing.

Sebentar. Entah kenapa, semua ini terasa sangat tidak asing, familiar sekali. Suara ini, aroma ini, semuanya.
Perlahan, Ghrian membuka matanya. Hamparan rumput hijau yang luas, dengan berbagai macam rumpun bunga yang indah menyeruak masuk indera penglihatannya. Sebuah pohon besar menaungi dan mengayomi di tengah-tengah taman itu. Ditambah dengan sebuah sungai kecil yang mengalir jernih, dengan suara bergemericik yang tetap sama, seperti dulu.

Ah, tempat ini. Ghrian sama sekali tidak mempercayai penglihatannya. Nostalgia menyelimuti seluruh inderanya. Tempat ini adalah kenangan masa kecil Aoi dan Ghrian. Dahulu, sebelum mereka memutuskan untuk pergi ke keramaian kota, tempat ini adalah tempat mereka menghabiskan hari. Tempat mereka bercanda, bergurau, berselisih, semuanya terjadi di sini.

“Kangen sekali ya,” Aoi membuka mulut.

“Sangat! Sungguh, sudah berapa tahun ya kita tidak kesini? Oh gosh how I really miss those times we spent here.” Ghrian menimpali. Dia berlari ke sana-sini, menyalami setiap helai bunga dan seluruh binatang di sana. Dengan senyuman yang sangat lebar dan mata yang berseri-seri seperti anak kecil yang menemukan mainannya, Ghrian sudah kembali seperti Ghrian yang biasanya.

Aoi tersenyum. Dia mengambil sebungkus kotak dari dalam mobilnya dan melemparnya ke arah Ghrian. Ghrian yang hampir gagal menangkap kotak itu menatap Aoi kebingungan.

Aoi hanya mengangguk, memberi instruksi tanpa suara pada Ghrian untuk membuka kotak itu.

Perlahan Ghrian membukanya, dan dia menemukan sebuah sarung tinju. Sarung tinju merah gelap yang sangat indah di mata Ghrian.
Ghrian senang sih, tapi dia masih heran apa maksud semua ini. Dia kembali menatap Aoi setelah mengeluarkan sarung tinju itu.

Happi bassuday, Saru.” Seru Aoi, dengan logat Jepangnya yang kental mencoba mengatakan happy birthday, membuatnya terdengar menggelikan.

“Eh?”

Ghrian merasa konyol. Akhir-akhir ini dia memang sama sekali tidak memikirkan tanggal, dia terlalu sibuk dibingungkan oleh sikap Aoi, hingga dia tidak sadar kalau hari ini sudah tanggal 28 April. Ya, tepat tanggal 28 April, 17 tahun yang lalu, Ghrian terlahir di muka bumi ini.

Aoi tertawa kecil, menertawakan betapa bodohnya sahabat satunya itu hingga dia bahkan tidak menyadari kalau dia berulang tahun hari itu.

Ghrian menatap mata biru Aoi, “Jadi ini…?” Aoi tersenyum, “Yap, hadiah.”

Sarung tinju itu sangat keren. Bahannya dari kulit terbaik, yang tidak akan mudah robek dan pastinya awet tahan lama. Sarung tangan seperti inilah yang selalu diimpikan oleh Ghrian. Dia menikmati setiap detil indah di sarung tangan itu, merasakan bagaimana sarung tangan itu terasa sangat nyaman dipakainya, seolah sarung tangan itu sengaja dibuat hanya untuknya. Nyaman dan sangat pas. Ghrian terlalu terlarut dalam pengagumannya, hingga ia tidak menyadari Aoi mengambil sebuah bungkusan lain dari mobilnya dan….

BUAGH!

Aoi meninju Ghrian tepat di perut secara tiba-tiba. Ghrian yang sama sekali tidak ada persiapan dan pertahanan diri terhempas mundur.

WHAT THE HECK?!!!! Are ‘ya tryin’ to kill me huh?!” Ghrian mengumpat dan melangkah mundur memegangi perutnya. Dari mana kura-kura sialan ini punya kekuatan seperti ini?

Sementara Aoi, yang kini tengah mengangkat tangannya yang berbalut sarung tinju berwarna biru gelap, menyeringai, seolah menantang Ghrian untuk maju. Dan Ghrian, dengan sarung tinju barunya, merasa lebih dari senang untuk menyanggupi.

Dia bangkit, dan langsung meluncurkan kepalannya ke arah perut Aoi, mendarat dengan mulus mengeluarkan suara gedebuk keras. Sementara itu Aoi masih sempat menghantam pipi Ghrian, meski tidak sekeras hantaman Ghrian.

Namun itu sudah lebih dari cukup untuk menyulut semangat tinju Ghrian.

Ghrian melemaskan otot lehernya, berjalan memutar menjaga jarak dari Aoi, dan akhirnya Aoi melangkah mendekat terlebih dahulu, meluncurkan tinjunya yang disambut oleh tinju Ghrian. Tangan kiri Ghrian mencoba menyerang lewat bawah namun Aoi masih sempat menangkisnya. Ghrian memukulkan tangan kanannya ke arah rahang Aoi, dengan cepat Aoi merunduk menghindari tinju Ghrian dan berjalan mundur menjauh.

Berjalan memutar, Aoi menyeringai, “Jangan pikir cuma kamu satu-satunya yang bisa bermain tinju, Saru.”
Merasa diolok-olok, Ghrian meluncurkan 2 tinju ke arah Aoi, salah satunya berhasil mendarat di tulang pipi Aoi. Ghrian berseru, “Dari mana kau belajar boxing, Turtle?”

Aoi mencoba membalas, namun berhasil ditangkis oleh Ghrian. Meluncurkan beberapa tinju beruntun ke arah Ghrian, akhirnya 1 pukulan berhasil luput dari tangkisan dan mengenai perut Ghrian. “Aku berlatih sendiri.”

Ghrian meluncurkan pukulan beruntun hingga Aoi terbatuk sedikit, kemudian menyeringai, “Bodoh, tidak mungkin kura-kura sepertimu belajar semua ini sendiri. Kau pasti memilki pelatih.”

Membungkuk sedikit, Aoi mencoba memukul rahang Ghrian dari bawah, namun ia sempat menghindar dan justru memukul Aoi tepat di sisi kiri perutnya.

Aoi meringis, “Aku belajar pada Marchell, puas?” Aoi terbatuk lagi, kemudian mengusap mulutnya.

Oh, 4 kata langsung dari mulut Aoi itu menjelaskan semuanya bagi Ghrian. Kenapa selama ini Aoi menghindarinya. Kenapa dia berangkat dan pulang sekolah lebih dulu. Kenapa dia jadi jarang berada di kelasnya. Kenapa dia lebih sering bersama Marchell.

Jadi selama ini Aoi berlatih tinju bersama Marchell, demi memberinya kado ulang tahun seperti ini. Memberinya sarung tinju, bahkan memberinya kesempatan untuk langsung memakainya dalam sebuah duel. Sungguh sangat mengesankan Ghrian tersanjung dengan sahabatnya yang sangat cerdas itu.

Jadi semua ini hanyalah kesalahpahaman dan kecemburuan Ghrian yang sangat menggelikan.

Ghrian menyeringai senang, memang tidak seharusnya ia meragukan Aoi, sahabatnya sejak kecil itu, orang yang paling memahami dirinya lebih dari siapapun. Tertawa kecil, Ghrian meluncurkan tinjunya lagi dengan menggumam pelan, sangat lirih, “I owe ‘ya a lot, dude.”

Mereka terus saling meluncurkan tinju mereka, menangkis, menghindar, menghantam, berputar, terus begitu. Mereka cukup imbang, karena memang Ghrian sengaja menurunkan levelnya demi sahabatnya yang masih sangat pemula itu. Yah, yang penting bukanlah menang atau kalah, namun makna tersirat dari semua ini.

Memang begini inilah laki-laki. Tidak perlu mengucapkan banyak kata. Semua tersampaikan melalui setiap keheningan, bahasa tubuh, dan kepalan mereka. Seluruh emosi negatif mereka terbuang pergi, digantikan oleh perasaan baru yang hangat, perasaan saling mengerti satu sama lain, perasaan yang takkan tergantikan, perasaan sebagai sahabat sejati.

Mereka berdua terus melanjutkan baku hantam mereka, hingga akhirnya mereka mencapai batasan masing-masing. Nafas mereka sama-sama memburu, mereka sama-sama kelelahan, tubuh mereka yang penuh dengan lebam dan memar direbahkan bersebelahan di atas hamparan karpet rumput yang empuk itu.

Keheningan tiba-tiba menyelimuti mereka sekali lagi. Yang terdengar hanyalah harmoni alam dan suara nafas mereka yang perlahan mulai kembali normal. Mereka bertukar pandangan, saling bertatapan, menatap langsung ke manik mata masing-masing. Mata biru Aoi, dan mata coklat terang Ghrian. Dalam diam, mereka saling bercakap-cakap melalui tatapan mereka, merasakan emosi baru, yang bersih dari segala emosi negatif.

Hmph. Mereka berdua tersenyum dan tertawa. Awalnya hanya terkikik, lama-lama tawa mereka semakin keras, semakin lepas.
Yah, pada akhirnya, setiap sahabat selalu memiliki cara tersendiri untuk saling memberi warna dalam hidup masing-masing.


~***TAMAT***~


Sometimes I myself can't believe that I could write this kind of story :/ I'm very proud of it ^^
 
 
Current Place: In the dorm u.u
Current Mood: accomplishedaccomplished
Now Playing: KAT-TUN - Our Story ~Prologue