?

Log in

 
 
17 August 2013 @ 12:59 pm
[KoKame Fanfic] The die Is Cast ~Let's Treasure This Moment  
Well, actually I had the idea of writing this fic around a year and a half ago, but well, since I'm being me, I mostly have not enough motivation to write LOL. But then one of my friends encouraged me to continue this fic and... here it is! Well it's still the first chap tho :/

Masih versi Bahasa Indonesia! English vers will be available soon (?)

Author: GitaGitaGila

Character(s): KAT-TUN

Pairing(s): KoKame (Main), JunDa (Side Pairing)

Genre: Romance comedy, tapi agak angst dan horror...? IDK -_-

Rating: PG-13 just to be safe.

Summary: Setelah diterima di Toudai, Koki pindah ke apartemen baru di Tokyo. Semua di sana terlihat baik-baik saja, kecuali sebuah fakta bahwa pemilik sebelumnya baru saja meninggal bulan lalu.

Warning: Character death, boysxboys.

Disclaimer: Semua karakter adalah milik Tuhan dan milik diri mereka masing-masing. Penulis tidak memiliki apa-apa, bahkan laptop yang digunakan untuk menulis ini adalah laptop pinjaman.

[Momen Pertama: Pertemuan]

Koki berdiri memandangi pelat perak bertuliskan 115 yang terpasang di depan pintu apartemen barunya. Dia tersenyum, lalu memutar knop pintu dan melangkah masuk. “Tadaima~” ia menyeringai lebar. “Halo, rumah baru. Mulai saat ini aku menetap di sini. Yoroshiku onegaishimasu~” Koki berseru, lalu mengganti sepatunya dengan sandal ruangan dan berjalan memutari ruangan.

Tempat ini tidak buruk, Koki tersenyum. Apartemen ini memang cukup indah dan cukup nyaman, meskipun bagi Koki tetap tidak ada yang mengalahkan rumah aslinya di Chiba. Sejujurnya Koki masih sedikit ragu untuk tinggal di sini. Bukan berarti dia tidak pernah tinggal jauh dari rumah, hanya saja dia belum pernah sejauh ini. Namun apa boleh buat, dia sudah susah-susah berhasil masuk Universitas Tokyo demi mengejar impiannya menjadi dokter hewan,  jadi mau tidak mau dia harus pindah kemari.

Koki mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Apartemen ini tidak kecil, tapi juga tidak terlalu luas. Desainnya minimalis dengan dominasi warna putih bersih dan kuning lembut, sangat menenangkan. Di sisi ruangan ada sebuah jendela besar yang menghadap ke arah kota Tokyo yang sangat padat, namun luar biasa indahnya. Ya, tempat ini indah.

Kalau dipikirkan lagi, letak apartemen ini sebenarnya juga tepat. Di pusat kota, dekat dari pusat perbelanjaan, dan juga dari stasiun kereta api. Ah, Koki jadi sedikit heran kenapa tempat yang bagus dan strategis seperti ini cukup murah untuk disewa mahasiswa sepertinya.

Koki duduk di sofa yang terletak di depan jendela, memandang keluar dan menerawang, tempat ini sepi ya? Koki sudah terbiasa dengan rumahnya di Chiba yang sangat ramai. Bagaimana tidak? Dia memiliki 4 saudara laki-laki ditambah dengan 9 ‘anak-anaknya’ yang manis. Ah, andai saja peraturan apartemen ini membolehkan membawa setidaknya satu dari sekian anak-anaknya. Terutama Ran yang selalu bermanja-manja ria di pangkuannya.

Tanpa mereka, pasti di sini sepi sekali. Tapi yah, tidak apa-apa sih. Dengan itu aku jadi bisa konsentrasi belajar, ujar Koki dalam hati, mencoba terus optimis dan membiasakan dirinya dengan lingkungan barunya.

Berbicara tentang lingkungan baru, Koki seharusnya pergi untuk menyapa tetangga di sekitarnya. Dengan pikiran seperti itu, akhirnya Koki melangkah keluar dengan bingkisan kecil berisi makanan khas Chiba, sebagai tanda perkenalan.

Perlahan, dia mengetuk pintu kamar 116 yang berada di ujung. “Permisi....”

Terdengar samar suara langkah kaki. Tak lama kemudian pintu itu terbuka sedikit, terhalang oleh rantai pengaman. “Ya?” Suaranya lirih dan agak lembut seperti perempuan, tapi entahlah Koki tidak bisa memastikan apakah dia laki-laki atau perempuan, karena yang terlihat hanyalah sepasang mata bulat berwarna coklat karamel.

“Anoo..., aku adalah penghuni baru ruangan 115. Aku datang hanya ingin menyapa, tapi kalau kau sibuk-” perkataan Koki terpotong dengan aksi menutup pintu oleh sang pemilik rumah yang tidak bisa dibilang pelan dan terhormat.

Hening.

Apa-apaan itu?! Tidak perlu sekasar itu kan!? Koki berapi-api, merasa terlecehkan.

Koki menghela nafas, yah, sudahlah. Meyakinkan dirinya jika manusia memang bermacam-macam dan tak jarang yang tidak ramah. Akhirnya ia mencoba hal yang sama ke ruangan 114.

Kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya, sang pemuda pemilik rumah dengan senang hati langsung membuka pintu dan mempersilakan masuk. Pemuda itu tersenyum, membuat garis wajahnya yang tegas semakin jelas terlihat. Tapi meskipun garis wajahnya tegas dan rambut hitamnya dimodel spiky dengan sedikit highlight coklat untuk memberi kesan macho, bagaimanapun wajahnya bisa dibilang cukup cantik. Matanya bulat, hidungnya mungil, dan bibirnya yang kemerahan dan agak tebal terlihat manis ketika tersenyum. Dia sedikit lebih pendek dari Koki, dan ketika ia menyiapkan sandal ruangan untuk Koki, saat itulah Koki sadar meski pemuda ini terlihat manis, otot-ototnya tidak main-main, benar-benar menonjol dan terbentuk dengan sempurna. Koki yang sering ke gym saja sepertinya masih kalah. Mungkin orang ini atlit atau semacamnya?

“Ah, maaf ya, agak berantakan,” ujarnya sambil membungkuk dan tersenyum kikuk.

Koki mengedarkan pandangan ke dalam ruangan. Errr.... Oke, mungkin ini lebih dari sekedar ‘agak’ berantakan. Tumpukan kertas dan buku-buku berserakan di dekat meja. Di atas meja itu ada sebuah laptop yang setengah tertutup, dan di sampingnya lagi-lagi ada tumpukan kertas, dan ditambah lagi ada secangkir kosong bekas kopi dan beberapa bungkus mie instan. Di tengah ruangan, ada beberapa utas tali dan kain putih yang warnanya sudah pudar dan agak kecoklatan, dilengkapi dengan satu set sarung tinju. Ah, mungkin dia memang atlit. Atau melihat dari buku-buku itu, mungkin dia juga mahasiswa, atau pegawai kantoran? Atau mungkin dia tidak tinggal sendiri dan yang tinggal bersamanya adalah mahasiswa atau pegawai kantoran?

“Silakan duduk. Mau teh atau kopi?” Perkataan pemuda itu memotong pertanyaan-pertanyaan dalam pikiran Koki. “Masih pagi begini, teh saja, terimakasih.” Koki tersenyum, senangnya punya tetangga yang ramah.

Setelah duduk dengan nyaman, mata Koki mengikuti langkah pemuda itu menuju dapur, dan matanya menangkap benda-benda lain, tumpukan baju yang berserakan, sepertinya mengarah ke sebuah ruangan. Dan di bagian ujung tumpukan baju itu ada... celana dalam?

Koki tertegun.

Bukan karena dia tidak pernah melihat celana dalam sebelumnya, hanya saja melihat jumlahnya sepertinya bukan hanya milik satu orang, dan... keduanya adalah pakaian laki-laki. Tergeletak, begitu saja, di depan kamar.

Sang tuan rumah kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat, meletakkannya di meja di hadapan Koki. “Silakan.” Melihat Koki yang tetap terdiam, pemuda itu mengikuti arah pandang Koki dan... mukanya langsung memerah. “AH. Maaf, maaf. Ini pasti membuatmu merasa tidak nyaman.” Ia langsung berdiri dan membereskan semua kekacauan itu.

Sejujurnya pikiran Koki sudah kemana-mana, apalagi tak lama kemudian ada sesosok pria jangkung yang tiba-tiba muncul dari belakang pemuda kecil tadi dan memeluk pinggangnya. “Pagi Tacchan~ Hari ini sarapan apa? Aku mau kau yang jadi sarapanku.” Dia tersenyum, dan mengecup telinga ‘Tacchan’.

Kontan saja, Tacchan menjadi merah padam dan Koki langsung tak bisa berkedip dan tak mampu berkata-kata.

“JUNNOOOOOOOOOO!!!”

Singkat saja, setelah Tacchan menonjok Junno di perut dan kembali membereskan semua dengan muka yang semerah kepiting rebus, akhirnya mereka bertiga duduk manis di ruang tamu.

“Maafkan kami atas semua ketidaknyamanan tadi,” kata Tacchan, membungkuk sambil sekilas melemparkan tatapan membunuh pada Junno yang hanya menyeringai tidak jelas, lalu melanjutkan,  “Kami pasti membuat kesan pertama yang sangat buruk. Maafkan kami. Junno, kau juga minta maaf!”

“Iya~ Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kita tadi kedatangan tamu.” Junno meminta maaf, meski sepertinya lebih ke meminta maaf kepada Tacchan-nya ketimbang terhadap tamu di hadapannya. Junno membungkuk dan menatap Koki yang balas menatapnya.

Pemuda bernama Junno itu tinggi dan tampan. Matanya bagus, hidungnya mancung, dan garis rahangnya terlihat samar-samar. Badannya juga bagus dan ideal, benar-benar seperti model. Dan kalau tersenyum, dia bisa tersenyum sangat lebar sampai-sampai matanya yang memang tidak terlalu besar itu menjadi tidak terlihat.

“Mm... namaku Tanaka Koki. Senang bertemu denganmu.” Akhirnya Koki mengawali, mencoba untuk memperkenalkan dirinya.

“Ya, namaku Ueda Tatsuya,” kata Tacchan, lalu melirik Junno, “...dan ini...”

Iriguchi Deguchi Junno desu~!!” seru Junno riang, tangannya membuat gerakan-gerakan seperti membuka-tutup pintu. Rupanya ia ingin memperkenalkan diri dengan membuat permainan kata yang... uh, sejujurnya, sangat... konyol. Beberapa detik yang hening berlalu dengan Koki yang mematung dan Ueda yang memegangi dahinya frustasi.

Akhirnya Junno mengulang perkenalannya menjadi lebih normal, “Namaku Junno Junnosuke. Aku adalah kekasihnya Tacchan.” Dia menyelipkan tangannya di pinggang Ueda, mendapatkan tangkisan reflek.

Ya, aku bisa lihat, kau posesif sekali. Meski itu yang berada di benak Koki, tapi dia hanya tersenyum kikuk.

Mendapat tatapan mematikan dari Ueda, Junno bersungut-sungut, “Apa sih, Tacchan. Aku hanya ingin memperingatkannya supaya tidak dekat-dekat denganmu karena kamu sudah punya aku. Lagipula Koki-kun ini cukup tampan, meski tidak setampan aku sih. Tapi tetap saja aku khawatir pada Tacchan-ku~ Tacchan-ku terlalu sempurna bak malaikat...” Junno terus saja menyerocos, sementara Ueda mengisyaratkan pada Koki, “Tolong jangan pedulikan dia.”

Ueda menghela nafas berat, kekasihnya itu memang sangat konyol, tidak peka, memalukan, suka seenaknya sendiri, dan yang bisa dia lakukan hanya terus menerus menyeringai seperti orang tidak waras. Tapi entah kenapa justru itu yang membuat Ueda tertarik padanya.

Pada akhirnya mereka terus berbincang-bincang, dan saling mengenal satu sama lain. Ternyata tepat seperti dugaan Koki, Ueda adalah seorang atlit boxing, sementara dia kuliah jurusan manajemen dan menjadi karyawan tidak tetap di sebuah kafe yang cukup ramai. Dan Junno adalah mahasiswa dari jurusan bisnis, memiliki pekerjaan sambilan sebagai pegawai di perusahaan keluarganya. Yang cukup mengejutkan, rupanya mereka juga sama-sama berkuliah Universitas Tokyo.

“Kau juga kuliah di Toudai? Baguslah, kita bisa berangkat bersama!” Junno berseru senang seolah yang baru saja dia katakan adalah ide paling brilian di dunia.

Tak memedulikan Junno, Ueda langsung mengubah topik, “Ah, Tanaka-kun, apakah kau tinggal sendirian?”

“Iya, begitulah. Aku juga masih-” Belum sempat Koki melanjutkan, sudah terpotong oleh Junno.

“Ah, Koki-kun, kau tinggal di sana sendirian? Serius?” Junno memberinya tatapan agak tidak percaya. Koki pun heran, “I-iya. Kenapa memangnya?”

“Apakah disana baik-baik saja? Semua normal? Apa tidak ada yang gentayangan?” Satu kata itu berhasil membuat kedua tangan Ueda langsung mendarat di mulut Junno, membuat Koki semakin tidak faham.

“Eh? Ada apa memangnya? Gentayangan?” Koki semakin tidak mengerti, apalagi ketika Ueda mendesis, “Sudah kubilang berapa kali jangan mengungkit-ungkit itu, Junno.”

Koki terus menatap Ueda dan Junno lekat-lekat. Meminta penjelasan sejelas-jelasnya.

Setelah bertukar pandang dan berdiskusi via tatapan mata dengan Junno, akhirnya Ueda menyerah dan menurunkan tangannya dari mulut Junno. Dia menyikut Junno pelan dan bergumam, “Kau tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu.”

“Ma- maaf Tacchan~ Aku keceplosan. Lagipula sebagai pemilik tempat itu yang baru, tidakkah dia berhak untuk tahu?”

“.... Jadi? Ada apa di kamarku?” ragu-ragu Koki bertanya, antara ingin tahu dan tidak ingin tahu. Bagaimanapun, keingintahuan selalu menang.

“Mm... sebenarnya...” Ueda mengawali, “... Dahulu, kamar 115 itu ditempati oleh seorang pemuda bernama Kamenashi Kazuya.”

“... Kame..nashi... Kazuya?” Koki mengulang, mengucap nama itu dengan hati-hati.

Junno mengangguk. “Ya. Kau kenal?”

Koki menggeleng pelan, sementara otaknya masih mengulang nama itu. Kamenashi Kazuya. Nama yang sangat... indah.

“Kame-kun,” Ueda melanjutkan, “adalah pemuda yang sangat ceria, bersemangat, baik hati dan ramah. Dia selalu menyapa kami, dan terkadang mampir hanya untuk sekedar berbincang.”

“Ya,” Junno menambahkan, “Kame-chan juga suka memberi kita beberapa oleh-oleh, makanan, atau semacamnya. Dia sangat baik.”

Koki mengangguk-angguk, “Lalu?”

Ueda menunduk. “Namun, sayangnya, di usianya yang masih muda itu... belum lama ini... dia...” Ueda semakin menunduk. Ia menggantungkan perkataannya bukan karena sengaja, tapi lebih karena dia tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan pemilihan kata yang tepat.

Koki terus menunggu kelanjutan kalimatnya dengan perasaan mulai was-was. Dia menatap Ueda, namun karena Ueda hanya terus menunduk, akhirnya ia mengalihkan tatapannya ke arah Junno, memohon dalam diam supaya jangan membuatnya penasaran.

Junno menepuk pundak Ueda, lalu meneruskan perkataan Ueda, “Kame-chan... baru saja bulan lalu dia mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup gawat. Dia yang sedang menaiki sepeda kayuh ditabrak truk besar.”

Ueda akhirnya mendongak lagi, dan meneruskan. “Meskipun dia telah dengan sigap dibawa ke rumah sakit, namun... yah, umm. Nyawanya tidak tertolong lagi.”

Entah kenapa, mendengar cerita seperti ini, Koki merasa sangat sedih. Matanya memanas seolah-olah dia mengenal siapa Kamenashi itu dan melihat dengan mata kepala sendiri semua yang terjadi. Entah bagaimana sesedih dan seperih itulah yang dirasakan oleh Koki.

Junno, meskipun selalu dikatakan tidak peka, tapi bagaimanapun dia bisa merasakan atmosfernya menjadi agak berat. Akhirnya dia mengeluarkan sedikit lelucon, berusaha mengembalikan suasana kembali normal. “Ah, Koki, ada rumor kalau dia terkadang masih suka mampir ke kamarnya loo.... Kau sebaiknya berhati-hati~”

Mungkin, kebanyakan orang pada umumnya akan menjadi ketakutan dan paranoid sendiri. Tapi karena entah bagaimana Koki tidak seperti orang kebanyakan, dia tidak takut. Sama sekali tidak. Dia justru merasa sakit, dan sangat sedih.

Kamenashi itu masih lebih muda dariku, seharusnya dia bisa memiliki masa depan yang cerah. Ah, andai saja ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk Kamenashi.

Dengan pemikiran seperti itu, setelah menanyakan tempat kejadian perkaranya pada pasangan kamar 114 itu, dia segera berlari, tubuh Koki bergerak dengan sendirinya mengikuti insting, dan begitu sadar kini dia telah berdiri diam dan terengah-engah, tepat di depan sebuah vas bunga kecil di pinggir jalan. Dia terus menatap bunga itu yang mulai terlihat layu, hingga ia tergerak untuk mengambil bunga-bunga yang masih segar di sekitarnya dan mengganti bunga itu.

Vas kecil itu hanya terdiam membisu di situ, namun Koki bisa merasakan berbagai macam emosi mengalir darinya. Kepedihan, kehilangan, kesusahan, semuanya. Koki mendesah, lalu berjongkok, menangkupkan kedua tangannya dan memejamkan matanya.

Wahai Kamenashi yang berada di dunia sana, aku mungkin memang tidak mengenalmu dan kau tidak mengenalku. Namun entah bagaimana aku bisa merasakan kepedihanmu. Kuharap kau bisa melepaskan kepedihanmu di dunia dan hidup bahagia di surga. Wahai Kamenashi, apakah ada yang bisa kulakukan untukmu?

Setelah beberapa saat, Koki membuka matanya, dan menemukan ada orang lain yang berdiri di sebelahnya. Koki mendongak sesaat, melihat pria berambut coklat keemasan di sebelahnya. Namun karena hari sudah mulai gelap, Koki tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya seutas senyum tipis yang terpasang di wajahnya.

“Ah, maaf.” Koki berdiri dan melangkah mundur. Dia tidak tahu kenapa dia meminta maaf, tapi mungkin saja itu adalah kenalan Kamenashi itu yang juga datang ingin mendoakannya, jadi Koki akhirnya permisi lebih dulu dan pergi kembali ke apartemennya.

Hari sudah agak gelap, namun bagaimanapun jalanan di Tokyo memang tidak pernah sepi, jadi itu tidak berpengaruh. Koki terus berjalan menerobos kerumunan orang-orang, meski pikirannya masih agak tidak fokus. Tapi akhirnya, setelah berjalan agak lama, mungkin sudah setengah jalan menuju apartemennya, pikirannya sudah kembali utuh dan dia menyadari sesuatu.

Tep.

Dia berhenti sejenak, lalu menoleh. Yang dia lihat tidak lain orang-orang berlalu-lalang seperti biasa, namun sejujurnya dia merasakan ada suatu keberadaan yang... mengikutinya?

Koki kembali berjalan, kali ini agak mempercepat langkahnya. Dia sesekali menoleh lagi, dan kali ini dia benar-benar yakin dia sedang diikuti. Oleh pria berambut coklat keemasan yang tadi. Koki mulai paranoid sendiri. Dia tidak takut hantu, karena dia tidak percaya dengan adanya hantu. Hantu itu tidak nyata. Tapi dia agak takut dengan yang namanya penguntit. Karena penguntit itu nyata adanya.

Aku sedang dikuntit?? Apa salahku? Apa mungkin aku melakukan hal yang menyinggungnya tadi? Atau dia salah paham?! Atau... karena aku terlalu tampan!?

Sementara Koki mulai setengah berlari, pikirannya mulai meracau kemana-mana. Ya begini ini Koki kalau sedang panik.

Jangan-jangan benar karena aku tampan, jadi dia ingin menggodaku. Cih sialan, begini ini resiko terlahir dengan wajah lebih dari rata-rata. Atau mungkin karena aku terlihat tajir jadi dia mau memerasku? Aaaah, itu tidak penting, yang penting aku harus segera sampai di rumah, begitu masuk apartemenku aku pasti sudah aman.

Untunglah tak lama kemudian dia sampai di apartemennya, segera membuka pintu rumah, masuk, dan langsung menguncinya.

Koki berdesah lega. Dia melepas sepatunya, memakai sandal ruangan dan mencoba mengatur ulang lagi nafasnya. “Aaah~ Untunglah aku sudah disini, kalau disini kan ama-”

Koki menahan nafas. Kata-katanya terpotong begitu dia melihat pria berambut coklat keemasan tadi tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Tepat di depannya. Di dalam apartemennya.

Koki tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun, tergagap, lidahnya kelu, tenggorokannya terasa sangat kering, menelan ludah pun rasanya susah.

Pria di depannya membuka mulut, “...da.”

“A- a- a-” Koki melangkah mundur, tubuhnya tak mau berhenti bergetar, dan dia bisa merasakan bulu kuduknya berdiri semua. Apalagi ketika pria itu semakin mendekat, membuat Koki terjatuh tergagap di lantai.

“Ada.” Kali ini suara pria itu terdengar lebih jelas.

Pria itu terus mendekat sementara Koki menyeret tubuhnya mundur, dan dia bisa merasakan kini dia sudah terperangkap diantara pria itu dan dinding dingin di belakangnya.

Wajah Koki menjadi putih dan pucat, ketika pria itu membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Koki. Dalam jarak sedekat ini, entah kenapa yang terlihat oleh Koki tetap hanya bibirnya saja, yang membentuk simpul kecil dan berkata, “Kau tadi bertanya padaku, apakah ada yang bisa kau lakukan untukku.” Dia tersenyum lagi. “Ada.”

Mata Koki membelalak sangat lebar, mukanya menjadi benar-benar pucat, dan yang bisa keluar dari mulutnya hanyalah, “HWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

.

.

.

TBC?

 
 
Current Mood: productiveproductive
Now Playing: KAT-TUN - Live On